Mengobati AIDS dengan virus HIV???

Sampai saat ini diperkirakan penderita AIDS berjumlah lebih dari 42 juta jiwa.Jumlah ini bertambah dengan kecepatan 15.000 pasien/hari.Sejak penemuan kasus AIDS ini berbagai penelitian telah dilakukan, dan berbagai obata telah dikembangkan dan diaplikasikan secara klinik, tapi masih belum membuahkan hasil.Yang banyak dipraktikan sampai saat ini ialah pengobatan dengan obat kimia (chemotherapy), obat ini biasanya adalah berupa inhibitor enzim yang diperlukan untuk replikasi virus.
Zidovudin (AZT) adalah obat AIDS yang pertama kali digunakan. Obat yang merupakan inhibitor enzim reverse transcritase ini mulai digunakan sejak tahun 1987. Setelah itu dikembangkan inhibitor protease seperti indinavir, ritonavir, dan nelfinavir.Pada umumnya, pemakaian obat ini adalah dengan kombinasi satu sama lainnya karena pemakaian obat tuggal tidak menyembuhkan dan bisa memicu timbulnya virus yang resisten terhadap obat tersebut.Pemakain obat kombinasi menjadi standar pengobatan AIDS saat ini, yang disebut active antiretoviral therapy (HAART).Walaupun demikian dengan cara ini juga masih belum efektif.

Pendekatan lain yang dilakukan adalah terapi gen.Artinya, pengobatan dilakukan dengan mengintroduksikan gen anti HIV ke dalam sel yang terinfeksi  HIV. Gen ini bisa berupa antisense dari salah satu enzim yang diperlukan untuk replikasi untuk virus tersebut atau ribozyme yang berupa antisense ARN dengan kemampuan untuk menguraikan ARN target. Pendekatan yang dilakukan dengan fokus ARN ini juga bagus dilihat dari segi imunologi karena tidak mengakibatkan respon imun yang tidak diinginkan. Hal ini berbeda dengan pendekatan melalui protein yang menyebabkan timbulnya respon imun di dalam tubuh.

Pendekatan berikutnya menjadikan virus HIV sebagai vektor dalam proses transfer gen, pemikiran ini pertama kali diwujudkan  pada tahun 1991 oleh Poznansky dan kawan – kawan dari Dana Farber Cancer institute Amerika. Setelah itu penelitian tentang penggunaan HIV sebagai vektor untuk terapi gen berkembang pesat.

Wenzhe Ho dari The Children Hospital of  Philadelphia bekerja sama dengan Julianna Lisziewicz dari National Cancer institute berhasil menghambat replikasi HIV di dalam sel dengan menggunakan antitat, yaitu antisense tat protein (enzim yang esensial untuk replikasi HIV). Sementara itu, beberapa grup juga berhasil menghambat perkembangbiakan HIV dengan menggunakan ribozyme.

Hal yang penting lagi  dalam sistem ini adalah tingkat ekspirasi gen yang stabil. Dari hasil percobaan dengan tikus, sampai saat ini telah berhasil dibuat vektor yang bisa mengekspresikan gen asing dengan stabil dalam jangkan waktu yang lama pada orgam, seperti otak, retina, hati, dan oto. Walaupun belum sampai pada aplikasi secara klinis, aplikasi vektor HIV untuk terapi gen bisa diharapkan.

Hal ini lebih didukung lagi dengan penemuan small interfing ARN (si-ARN) yang berfungsi menghambat ekspresi gen secara spesifik. prinsipnya sama dengan antisense dan ribozyme, tapi siARN lebih spesifik dan hanya diperlukan sekitar 20 bp(base pair) sehingga lebih mudah digunakan.

David Baltimore dari Unversity of  Califoornia Los Angeles (UCLA) berhasil menekan infeksi terhadap human T cell dengan menggunakan siARN terhadap protein  CCR5 yang merupakan co-receptor HIV. Dalam penelitian ini HIV digunakan sebagai sistem pengiriman gen.

Semoga metode ini dapat segera digunakan untuk pengobatan AIDS di seluruh dunia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: